Farmakologi Sistem Saraf Otonom

Obat Kolinergik (Parasimpatomimetik)

Menu Navigasi

Parasimpatomimetik

Memacu Mode
Rest and Digest.

Obat Kolinergik adalah agen farmakologis yang efeknya meniru, menyerupai, atau meningkatkan kerja sistem saraf Parasimpatis. Neurotransmiter alami dan eksklusif yang bekerja di sistem ini adalah Asetilkolin (ACh).

2 Tipe Reseptor Kolinergik Utama

  • Muskarinik (M)
    Berada di organ target otonom (Jantung M2, Mata, Pencernaan M3, Paru, Kelenjar Eksokrin M3). Reseptor ini adalah G-Protein Coupled Receptor (GPCR). Bertanggung jawab murni atas efek fisiologis "Rest & Digest".
  • Nikotinik (N)
    Berada di Ganglion otonom (Nn) dan Neuromuscular Junction (Nm) saraf tulang belakang. Ini adalah Ligand-gated ion channels. Berperan utama dalam memicu kontraksi otot rangka (otot sadar).

Rest & Digest

Parasimpatis aktif mendominasi saat tubuh dalam keadaan beristirahat: menurunkan detak jantung, memprioritaskan fungsi cerna (peristaltik dan enzim), serta merangsang pengosongan kandung kemih dan rektum.

Simulator Mekanisme: Agonis Langsung vs Tak Langsung

Secara farmakodinamik, obat kolinergik dapat mencapai target efeknya melalui dua rute yang berbeda. Keduanya bermuara pada peningkatan stimulasi reseptor muskarinik atau nikotinik.

Asetilkolin (Hijau) dilepaskan, menstimulasi reseptor, lalu dengan cepat dihancurkan oleh enzim penjaga Asetilkolinesterase (AChE) agar organ tidak kejang.
Terminal Saraf (Vesikel ACh)
AChE
BLOK
Membran Organ Efektor
Reseptor M

Farmakodinamik: Efek Organ (Reseptor Muskarinik)

Apa yang terjadi pada anatomi organ jika reseptor Muskarinik diaktifkan secara masif oleh obat kolinergik? Pilih organ di bawah ini untuk melihat respons spesifiknya secara molekuler dan visual.

Klasifikasi Obat Kolinergik

Penggolongan farmakologis utama membedakan agen yang bekerja langsung (mendeteksi reseptor) dengan yang bekerja tidak langsung (mendeteksi enzim AChE).

Agonis Langsung

Bekerja berikatan langsung dengan Reseptor Muskarinik / Nikotinik organ target.

Bethanechol Ester Kolin Sintetik

Selektif pada reseptor muskarinik saluran kemih dan cerna. Sangat tahan terhadap pemecahan AChE.

Indikasi: Retensi Urin non-obstruktif, Atoni lambung pasca-bedah.

Carbachol Ester Kolin

Mempengaruhi reseptor muskarinik dan nikotinik. Efek sangat kuat dan panjang. Terbatas hanya untuk penggunaan topikal (mata).

Indikasi: Tetes mata memicu miosis tajam pada operasi mata (Glaukoma).

Pilokarpin Alkaloid Tumbuhan

Dapat menembus kornea mata dan CNS. Sangat poten menstimulasi kelenjar eksokrin (keringat, air mata, liur).

Indikasi: Terapi Glaukoma darurat, Mulut kering kronis (Sjogren's syndrome).

Methacholine

Memicu bronkokonstriksi hebat jika dihirup.

Indikasi: Uji Diagnosis Klinis asma bronkial (Methacholine challenge test).

Agonis Tak Langsung

Memblokir Enzim Asetilkolinesterase (AChE). ACh alami akan membanjiri seluruh sinaps muskarinik dan nikotinik.

Sub: Inhibitor Reversibel (Terapi Medis)

Physostigmine (Eserin)

Terserap utuh melintasi Sawar Darah Otak (BBB) dan mempengaruhi sistem saraf pusat.

Indikasi Khusus: Antidotum keracunan Atropin / Scopolamin.
Neostigmine & Pyridostigmine

TIDAK masuk ke otak. Berefek kuat pada tautan saraf-otot rangka (Nikotinik) dan otonom (Muskarinik).

Indikasi: Terapi utama Myasthenia Gravis, Reversal kelumpuhan pasca-operasi.
Donepezil, Rivastigmine, Galantamine

Sangat larut lemak, spesifik bekerja memperpanjang ACh di korteks memori otak yang rusak.

Indikasi: Terapi demensia pada penyakit Alzheimer.

Sub: Irreversibel (Sangat Toksik)

Organofosfat & Gas Saraf

Membentuk ikatan kovalen fosfor yang sangat stabil dengan AChE, menyebabkan enzim hancur permanen. Tubuh harus mensintesis enzim baru yang memakan waktu lama.

  • Pestisida: Malathion, Parathion, Diazinon.
  • Senjata Kimia / Nerve Gas: Sarin, Soman, VX.

Krisis Kolinergik: Toxidrome & Antidotum

Overdosis obat, konsumsi jamur beracun (Muscarine), atau keracunan pestisida Organofosfat memicu hiperstimulasi mematikan. Dua mnemonik yang sering dipakai medis adalah SLUDGE atau DUMBELS.

Manifestasi Klinis (Reseptor Muskarinik)

S

Salivation

Mulut berbusa/ngiler parah akibat sekresi kelenjar liur hiperaktif.

L

Lacrimation

Air mata mengalir deras tak terkontrol.

U

Urination

Kencing terus-menerus (Sfingter relaksasi).

D

Defecation

Diare cair tak tertahan akibat kejang usus.

G

GI Distress

Kram perut / nyeri lambung yang sangat hebat.

E

Emesis

Muntah-muntah akut secara masif.

Peringatan Kritis: Walaupun SLUDGE mempermudah identifikasi krisis ekskresi dan eliminasi, ancaman kematian utama tetap disebabkan oleh efek organ vital "Killer B's" (Bronchorrhea, Bronchospasm, Bradycardia) seperti pada DUMBELS. Selain itu, keracunan inhibitor enzim juga menyebabkan kedutan hebat pada reseptor nikotinik otot rangka (Fasikulasi) yang berujung pada kelumpuhan napas.

Tatalaksana Penawar (Antidotum)

1

Atropin Sulfat (i.v)

Merupakan Antagonis Muskarinik. Atropin segera berlomba menduduki dan menutup seluruh reseptor muskarinik, sehingga menyelamatkan pasien dari mati lemas (Bronkospasme & Bradikardia) dan mengeringkan air liur berlebih. Diberikan berulang hingga terjadi efek Atropinisasi (pupil membesar/midriasis).

2

Pralidoxime (2-PAM)

Obat ini khusus untuk keracunan Organofosfat. Ia bekerja secara ajaib sebagai Reaktivator Enzim (mencongkel ikatan racun fosfat dari enzim AChE, sehingga enzim kembali hidup dan bisa menghancurkan sisa Asetilkolin). Kritis: Harus diberikan cepat sebelum enzim mengalami penuaan (Aging) permanen.

Evaluasi Pemahaman Kolinergik

Uji pengetahuan tingkat lanjut (Deep Dive) Anda tentang mekanisme molekuler, spesifikasi indikasi obat, dan manajemen toksisitas darurat.