Anti
Nyeri & Demam.
Nyeri dan demam adalah mekanisme pertahanan biologis yang esensial, memberi isyarat adanya infeksi atau kerusakan jaringan. Analgetik adalah obat untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa hilangnya kesadaran, sementara Antipiretik mengembalikan *set-point* termostat di hipotalamus kembali normal saat terjadi demam.
Uji Antipiretik (Pirogen)
Untuk menguji efikasi obat penurun panas (seperti Parasetamol), hewan coba harus dibuat demam (*Pyrexia*) terlebih dahulu. Ini dilakukan dengan menyuntikkan Pirogen.
-
Induksi Vaksin DPT
Vaksin Diphtheria-Pertussis-Tetanus (DPT) disuntikkan secara i.m. Komponen pertussis bersifat pirogenik (memancing demam) dengan merangsang leukosit melepaskan pirogen endogen (IL-1) yang menaikkan *set-point* suhu tubuh di hipotalamus otak. -
Pengukuran Rektal
Suhu hewan paling akurat diukur pada rektum (anus) menggunakan termometer digital dengan pelumas (vaselin) sedalam 1-2 cm.
Analgetik Perifer vs Sentral
Hewan tidak bisa mengatakan "Saya sakit". Oleh karena itu, kita menggunakan uji nosiseptif (stimulus mekanis, kimia, termal) untuk menghasilkan nyeri terukur. Ada dua kelompok kerja analgetik:
Non-Narkotik (Contoh: Antalgin, Aspirin). Bekerja di lokasi jaringan yang rusak dengan menghambat pelepasan mediator nyeri (seperti Prostaglandin/Bradikinin) pada reseptor ujung saraf.
Narkotik (Contoh: Morfin, Fentanil). Memblokir langsung pusat persepsi nyeri di Susunan Saraf Pusat (Otak & Medula Spinalis). Untuk nyeri fraktur atau kanker berat.
Prosedur Kerja Praktikum
Pahami diagram alir (workflow) berikut sebelum memulai pengujian in vivo. Pengukuran yang sistematis adalah kunci akurasi data farmakodinamik.
Alur Uji Antipiretik
Suhu Basal (t=0)
Ukur suhu normal rektal tikus menggunakan termometer digital (berpelumas vaselin sedalam ~2 cm). Catat sebagai suhu awal.
Induksi Vaksin DPT
Suntikkan vaksin DPT (pirogenik) secara intramuskular (i.m). Tunggu hingga suhu tikus naik dan konstan (1-2 jam).
Pemberian Obat
Setelah demam tercapai, berikan sediaan uji (Parasetamol) atau larutan kontrol secara peroral (p.o) dengan sonde.
Observasi Suhu
Ukur kembali suhu rektal tikus pada interval menit ke-30, 60, 90, dan 120. Catat pada tabel data.
Alur Uji Geliat (Perifer)
Persiapan Hewan
Puasakan mencit selama 12 jam sebelum praktikum. Timbang berat badan mencit untuk perhitungan dosis (VAO).
Pemberian Obat (Pre-treatment)
Berikan obat analgetik perifer (Antalgin) atau Kontrol (NaCl) secara i.p. Tunggu 30 menit agar obat diabsorpsi.
Induksi Asam Asetat
Suntikkan Asam Asetat 3% secara Intraperitoneal (i.p). Ini akan memicu iritasi viseral dan respons geliat (*writhing*).
Perhitungan Geliat
Hitung frekuensi geliat kumulatif setiap interval 10 menit selama 90 menit penuh untuk mengukur persentase daya proteksi obat.
Alur Uji Hot Plate (Sentral)
Uji Kepekaan (Pre-test)
Panaskan plat konstan pada suhu 55°C. Uji mencit normal; harus merespons (menjilat kaki/melompat) dalam 4-10 detik. Jika >30 detik, afkirkan hewan.
Pemberian Obat
Suntikkan obat analgetik sentral (Contoh: Morfin 10 mg/kg & 15 mg/kg) atau NaCl fisiologis secara i.p.
Induksi Termal
Tempatkan mencit di atas hot plate 55°C pada selang waktu menit ke-10, 20, 30, 40, hingga 90 menit.
Observasi Endpoint
Catat waktu (dalam detik) saat mencit mulai menjilati kakinya/melompat. Penting: Angkat mencit maksimal pada detik ke-30 untuk mencegah kerusakan jaringan (tissue damage).
5.1 Simulator Uji Antipiretik (Visualisasi)
Gunakan panel interaktif ini untuk mensimulasikan respons termostat tubuh hewan pada pengukuran rektal sesuai dengan prosedur kerja di atas.
Kontrol Simulator
6.1 Simulator Uji Efek Analgetik
Metode pengujian analgesik membedakan efikasi obat terhadap rangsang nyeri sentral (termal/panas) dan perifer (kimia/asam asetat). Klik tab di bawah ini untuk mensimulasikan respons akhir (Endpoint) masing-masing metode.
Hot Plate (Janssen & Jageneu)
Stimulus: Panas Termal (Suhu Plat dijaga konstan 55°C).
Tujuan: Mengukur efikasi Analgetik Sentral (Narkotik seperti Morfin).
Indikator Respons (Endpoint): Menghitung Waktu Respon dalam hitungan detik. Tikus diletakkan di atas plat panas. *Timer* dihentikan saat tikus mulai menjilati kaki depannya atau melompat.
Ketepatan Pembuatan Kurva Dosis-Respons
Observasi perubahan respons akibat variasi besaran dosis. Sesuai dengan teori Dose-Response Relationship, peningkatkan dosis analgetik (hingga batas maksimalnya) akan berbanding lurus dengan peningkatan efikasi (memperpanjang waktu tahan panas atau menurunkan drastis jumlah geliat nyeri).
Pilih Dataset Kurva
Dokumentasi Data Pengamatan
Gunakan kerangka tabel di bawah ini sebagai standar pencatatan di buku log Anda. Observasi dilakukan dari menit ke-10 hingga ke-90.
| Perlakuan | 10' | 30' | 60' | 90' |
|---|---|---|---|---|
| Kontrol (NaCl) | 6 | 5 | 6 | 7 |
| Morfin 10 mg/kg | 12 | 18 | 15 | 9 |
| Morfin 15 mg/kg | 15 | 26 | 22 | 12 |
| Perlakuan (i.p Asam Asetat) | 10' | 30' | 60' | 90' |
|---|---|---|---|---|
| Kontrol (NaCl) | 15 | 35 | 60 | 85 |
| Antalgin 150 mg/kg | 8 | 18 | 25 | 32 |
| Antalgin 250 mg/kg | 3 | 8 | 12 | 15 |
Evaluasi Teori
Uji pemahaman analitik Anda tentang alur kerja, metode uji nyeri, induksi demam DPT, dan pembacaan kurva dosis-respons.