SimDosis — Hubungan Dosis, Konsentrasi, dan Waktu Obat

Modul 07 · neraca laju · linearitas dosis · pengaruh ka, F, CL, Vd · durasi & mula kerja · jendela terapetik · pola kurva khusus

Capaian pembelajaran

  1. Menjelaskan hubungan dosis, konsentrasi plasma, dan waktu sebagai satu kesatuan pada kurva konsentrasi–waktu.
  2. Membaca kurva dan menafsirkan perubahan kadar akibat perubahan dosis, laju absorpsi, bioavailabilitas, klirens, dan volume distribusi.
  3. Menghitung durasi kerja, mula kerja, serta memperkirakan kadar baru ketika dosis atau fungsi organ berubah.
  4. Mengenali pola kurva khusus (waktu tunda, puncak ganda, lepas lambat, non-linear) dan implikasi klinisnya.

Klik ! di samping simbol untuk membuka/menutup penjelasan variabel. Tombol ⛶ menampilkan satu kartu layar penuh; ▶ Mode presentasi menampilkan materi kartu demi kartu (← →, Esc keluar).

Kotak Rumus 7.1 & 7.2

Rumus proporsional hanya sahih bila tidak ada proses yang jenuh. t_d menganggap efek langsung mengikuti kadar plasma (tanpa histeresis).

Daftar singkatan dan simbol

Kurva sebagai neraca laju: masuk vs keluar

Selama laju masuk > laju keluar, kurva naik; saat sama, puncak; setelah laju keluar lebih besar, kurva turun. Obat model: oral 500 mg, F 0,8, Vd 25 L, ka 1,2 jam⁻¹, ke 0,1733 jam⁻¹.

0 jam

Kinetika linear: kadar sebanding dosis (Gambar 7.1 & Tabel 7.1)

Bentuk kurva, Tmax, dan t½ tidak berubah — inilah prinsip superposisi, dasar hampir semua perhitungan penyesuaian dosis.

Laju absorpsi (ka) vs jumlah absorpsi (F) — Gambar 7.2

Ubah ka atau F dan bandingkan dengan kurva acuan (putus-putus). ka mengubah kecepatan tanpa mengubah jumlah; F mengubah jumlah tanpa mengubah kecepatan.

Tabel 7.2 — Membedakan perubahan laju dan jumlah absorpsi

PerubahanCmaxTmaxAUCContoh penyebab
ka turunTurunMundurTetapBersama makanan, lepas lambat, motilitas lambung turun
ka naikNaikMajuTetapLarutan oral, tablet dispersi, metoklopramid
F turunTurunTetapTurunLintas pertama meningkat, kelasi antasida, disolusi buruk
F naikNaikTetapNaikPenghambatan enzim usus (jus grapefruit), perbaikan formulasi

Klirens dan volume distribusi — Gambar 7.3

CL dan Vd adalah parameter fisiologis yang berdiri sendiri; ke dan t½ adalah turunannya.

Tabel 7.3 — Matriks arah perubahan (dihitung dari model)

Studi kasus: GFR 35 mL/menit — kenaikan Cmax dosis pertama yang kecil dapat menipu

Penyesuaian:

Pelajaran: dampak penurunan klirens baru tampak nyata setelah akumulasi. Penyesuaian yang tepat menurunkan dosis atau memperpanjang interval agar AUC kembali ke sasaran.

Durasi kerja setelah IV bolus — Gambar 7.4

Hubungan logaritmik: setiap penggandaan dosis hanya menambah satu t½, sementara C₀ cepat melampaui MTC — memperpanjang kerja dengan menaikkan dosis tunggal boros dan berisiko.

Mula kerja dan durasi pada pemberian oral (pengaruh ka)

Absorpsi lebih lambat menunda mula kerja dan menurunkan puncak, tetapi dapat memperpanjang lama kadar di atas MEC — prinsip sediaan lepas lambat.

Hubungan kadar–efek: model Emax

EC50 5
1. Kadar vs waktu
2. Efek vs kadar (Emax)
3. Efek vs waktu

Empat pola kurva khusus — Gambar 7.5 & Tabel 7.4

Kurva abu-abu putus-putus = obat model acuan.

① Waktu tunda (tlag)

Kadar nol di jam-jam awal, lalu naik tajam — tablet salut enterik, pengosongan lambung lambat.

② Puncak ganda (sirkulasi enterohepatik)

Obat dikeluarkan ke empedu, disimpan di kandung empedu, dan dilepas kembali ke usus saat makan. Jangan memakai puncak kedua untuk menghitung ke.

③ Lepas lambat & flip-flop

Puncak rendah, datar, melebar. Bila ka < ke, fase terminal mencerminkan absorpsi.

④ Kinetika non-linear (enzim jenuh)

AUC naik lebih dari sebanding dosis — model Michaelis–Menten (ilustratif).

Fenitoin (Css = Km·R ÷ (Vmax − R), Km 4 mg/L, Vmax 500 mg/hari, ilustratif): 300 → 400 mg/hari menaikkan Css > 2 kali.

Tabel 7.4 — Pola kurva khusus, penyebab, dan cara membacanya

PolaCiri pada kurvaPenyebab umumImplikasi pembacaan
Waktu tunda (t_lag)Kadar nol pada jam-jam awal, lalu naik tajamTablet salut enterik, pengosongan lambung lambatWaktu diganti (t − t_lag); mula kerja tertunda
Puncak gandaDua puncak atau bahu pada fase menurunSirkulasi enterohepatik, absorpsi di dua lokasi ususJangan memakai puncak kedua untuk menghitung ke
Lepas lambatPuncak rendah, datar, melebarSediaan modified release, depotFluktuasi kecil; t½ semu bisa lebih panjang (flip-flop)
Non-linearAUC naik lebih dari sebanding dosisEnzim/transporter jenuh (fenitoin, salisilat dosis tinggi)Rumus proporsional tidak berlaku; kenaikan dosis kecil dapat berbahaya

Contoh perhitungan terapan (Contoh 7.1–7.5)

Buka langkah satu per satu; angka soal dapat diubah dan seluruh langkah dihitung ulang.

Latihan soal

Soal hitungan diperiksa otomatis (toleransi 2%); 🎲 untuk angka baru. Soal konsep dilengkapi poin kunci.

Daftar pustaka (Modul 07)

  1. Shargel, L., Wu-Pong, S., & Yu, A. B. C. (2016). Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics (7th ed.). McGraw-Hill Education.
  2. Rowland, M., & Tozer, T. N. (2010). Clinical Pharmacokinetics and Pharmacodynamics: Concepts and Applications (4th ed.). Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins.
  3. Winter, M. E. (2010). Basic Clinical Pharmacokinetics (5th ed.). Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins.
  4. Bauer, L. A. (2021). Applied Clinical Pharmacokinetics (5th ed.). McGraw-Hill Education.
  5. Birkett, D. J. (2009). Pharmacokinetics Made Easy (2nd ed.). McGraw-Hill Australia.
  6. Rosenbaum, S. (2016). Basic Pharmacokinetics and Pharmacodynamics: An Integrated Textbook and Computer Simulations (2nd ed.). Wiley.
  7. Tozer, T. N., & Rowland, M. (2006). Introduction to Pharmacokinetics and Pharmacodynamics: The Quantitative Basis of Drug Therapy. Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins.
  8. Holford, N. H. G., & Sheiner, L. B. (1981). Understanding the dose–effect relationship: clinical application of pharmacokinetic–pharmacodynamic models. Clinical Pharmacokinetics, 6(6), 429–453.

Obat model mengikuti modul (F 0,8; Vd 25 L; ka 1,2 jam⁻¹; ke 0,1733 jam⁻¹). Parameter pola khusus dan fenitoin bersifat ilustratif.