Capaian pembelajaran
- Menjelaskan keunggulan dan keterbatasan rute oral serta tantangan biofarmasetika dari anatomi dan fisiologi saluran cerna.
- Menghubungkan faktor fisiologis dan biofarmasetika dengan pemilihan sediaan oral: lepas segera, lepas tunda, lepas diperpanjang, dan gastroretentif.
- Menerapkan strategi formulasi sesuai kelas BCS (I–IV) berdasarkan tahap penentu laju absorpsi.
- Menghitung bilangan dosis, dosis maksimum terabsorpsi (MAD), serta laju pelepasan dan dosis sediaan lepas diperpanjang.
Klik ! di samping simbol untuk membuka/menutup penjelasan variabel. Tombol ⛶ di setiap kartu menampilkan kartu itu satu layar penuh; ▶ Mode presentasi menampilkan seluruh materi kartu demi kartu (← →).
Kotak Rumus 6.1 — Perhitungan biofarmasetika sediaan oral
Daftar singkatan dan simbol
Perjalanan 100 molekul obat oral menuju sirkulasi
Setiap tahap merupakan peluang kehilangan obat sekaligus sumber variabilitas. Atur fraksi yang lolos di tiap tahap atau pilih contoh obat (nilai ilustratif).
Tabel 6.1 — Keunggulan dan keterbatasan rute oral
Pasien
✔ Nyaman, tanpa nyeri, dapat dilakukan sendiri, kepatuhan tinggi
✘ Tidak dapat untuk pasien muntah, tidak sadar, atau sulit menelan
Produksi
✔ Tidak harus steril, biaya rendah, stabil dalam bentuk padat
✘ Memerlukan pengendalian disolusi antarbets yang ketat
Absorpsi
✔ Luas permukaan usus halus sangat besar
✘ Onset lebih lambat; dipengaruhi pH, makanan, motilitas, penyakit
Stabilitas
—
✘ Degradasi oleh asam lambung dan enzim (penisilin G, insulin)
Ketersediaan hayati
—
✘ Efek lintas pertama usus dan hati; efluks P-gp
Keamanan
✔ Lebih aman dari reaksi berat dibandingkan injeksi
✘ Iritasi saluran cerna (AINS, bisfosfonat, kalium klorida)
Pengendalian kadar
✔ Dapat dirancang lepas diperpanjang
✘ Jendela absorpsi sempit dan waktu transit membatasi lama pelepasan
Penasihat perancangan sediaan oral (Gambar 6.1 & Tabel 6.2)
Masukkan data praformulasi; aplikasi menentukan kelas BCS, menjalankan daftar periksa, dan menyarankan strategi formulasi.
Daftar periksa biofarmasetika
Peta BCS: bilangan dosis vs fraksi terabsorpsi
Klik titik obat atau pilih dari daftar. Batas kelarutan: D₀ = 1; batas permeabilitas: Fa = 85%.
Uji kecocokan strategi
Strategi formulasi per kelas BCS (Gambar 6.2)
Kelas I
Penentu laju: pengosongan lambung
Sediaan konvensional; fokus mutu, stabilitas, keseragaman; biowaiver; kandidat terbaik lepas diperpanjang.
Kelas II
Penentu laju: disolusi / kelarutan
Nanokristal, garam/kokristal, dispersi padat amorf (HPMC, HPMCAS, PVP-VA), SMEDDS, siklodekstrin.
Kelas III
Penentu laju: permeasi membran
Peningkat permeasi (C10, SNAC), prodrug (valasiklovir–PEPT1, enalapril), gastroretentif; hindari sorbitol/manitol dosis besar.
Kelas IV
Penentu laju: kelarutan dan permeasi
Kombinasi strategi Kelas II & III (lipid, nanopartikel) atau rute non-oral.
Tabel 6.3 — Contoh teknologi formulasi oral (klik kartu kelas untuk menyaring)
| Kelas | Teknologi | Mekanisme | Contoh produk/obat |
|---|---|---|---|
| II | Nanokristal | Luas permukaan sangat besar → disolusi cepat | Fenofibrat, aprepitan, sirolimus tablet |
| II | Dispersi padat amorf | Bentuk amorf berenergi tinggi + polimer → lewat jenuh | Itrakonazol, lopinavir/ritonavir tablet, vemurafenib |
| II | Sistem lipid (SEDDS/SMEDDS) | Obat terlarut dalam minyak–surfaktan → mikroemulsi | Siklosporin mikroemulsi, ritonavir kapsul lunak |
| II | Kompleks siklodekstrin | Inklusi molekul lipofil dalam rongga siklodekstrin | Itrakonazol larutan oral (HP-β-siklodekstrin) |
| III | Peningkat permeasi | Membuka taut erat / meningkatkan fluiditas membran | Semaglutid oral (SNAC) |
| III | Prodrug | Meningkatkan lipofilisitas atau afinitas transporter | Valasiklovir, enalapril, oseltamivir |
| III | Gastroretentif | Memperpanjang waktu kontak dengan jendela absorpsi | Metformin GR, gabapentin GR |
| IV | Kombinasi lipid–nano | Kelarutan dan absorpsi ditingkatkan bersamaan | Formulasi lipid amfoterisin B oral (dalam pengembangan) |
Bilangan dosis, MAD, dan simulasi absorpsi di usus halus
Model: partikel melarut (Noyes–Whitney) ke dalam 250 mL cairan usus sampai jenuh, obat terlarut diabsorpsi dengan laju ka, selama waktu transit. Bandingkan efek mengecilkan partikel dengan menaikkan kelarutan.
Konsep lewat jenuh “pegas dan parasut” (Gambar 6.3)
Bentuk amorf berenergi tinggi melarut cepat melampaui kelarutan kristal (pegas); polimer penghambat presipitasi mempertahankan lewat jenuh selama waktu absorpsi (parasut).
Lepas segera berulang vs lepas diperpanjang sekali sehari (Gambar 6.4)
Lepas tunda (salut enterik): melindungi obat labil asam
Gastroretentif dan jendela absorpsi sempit
Tabel 6.4 — Apakah obat ini cocok dibuat lepas diperpanjang?
Galeri desain tablet & sistem penghantaran oral
Ilustrasi penampang setiap desain dan cara obat dilepaskan. Geser waktu atau tekan Putar — semua ilustrasi dan kurva pelepasan bergerak bersamaan.
Perbandingan profil pelepasan
Merancang tablet dua lapis lepas diperpanjang
Lapisan lepas segera berisi dosis awal; lapisan matriks melepaskan obat orde nol selama τ jam.
Studi kasus: siklosporin emulsi minyak vs mikroemulsi (SMEDDS)
Simulasi ilustratif kadar lembah harian pasien transplantasi. Emulsi minyak bergantung empedu dan makanan; mikroemulsi membentuk tetesan nanometer secara spontan.
Teknologi formulasi obat BCS Kelas II bukan hanya menaikkan bioavailabilitas, tetapi juga menurunkan variabilitas — sama pentingnya bagi obat berindeks terapi sempit.
Contoh perhitungan terapan (Contoh 6.1–6.3)
Buka langkah satu per satu. Angka soal dapat diubah dan seluruh langkah dihitung ulang.
Latihan soal
Soal hitungan dapat diperiksa otomatis (toleransi 2%); gunakan 🎲 untuk angka baru. Soal konsep dilengkapi poin kunci.
Tugas terstruktur (Tugas-6 sesuai RPS)
Judul: Menerapkan strategi biofarmasetika dalam perancangan obat BCS Kelas I/II/III/IV rute oral.
Deskripsi: mengkaji faktor fisiologi rute oral, faktor biofarmasetika obat, dan strategi formulasi sesuai kelas BCS obat yang dipilih, berdasarkan buku dan jurnal valid (5–10 tahun terakhir).
Luaran: makalah (pdf) dan slide presentasi; bobot makalah 35%, slide 30%, presentasi 35%.
Daftar pustaka (Modul 06 PSF305)
- Shargel, L., & Yu, A. B. C. (2016). Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics (7th ed.), Chapter 14, 15, & 17. McGraw-Hill Education.
- Jambhekar, S. S., & Breen, P. J. (2009). Basic Pharmacokinetics, Chapter 8 & 9. Pharmaceutical Press.
- Venkateswarlu, V. (2008). Biopharmaceutics and Pharmacokinetics, Chapter 2. PharmaMed Press.
- Sheth, P., & Sandhu, H. (2014). Amorphous solid dispersion using supercritical fluid technology. In Amorphous Solid Dispersions: Theory and Practice (pp. 579–591). Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4939-1598-9_19
- Rajpoot, K., dkk. (2020). Self-microemulsifying drug-delivery system: Ongoing challenges and future ahead. In Drug Delivery Systems (pp. 393–454). Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-814487-9.00009-0
- Bruschi, M. L. (2015). Main mechanisms to control the drug release. In Strategies to Modify the Drug Release from Pharmaceutical Systems (pp. 37–62). Woodhead Publishing. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-100092-2.00004-7
- Curatolo, W. (1998). Physical chemical properties of oral drug candidates in the discovery and exploratory development settings. Pharmaceutical Science & Technology Today, 1(9), 387–393.
- Brouwers, J., Brewster, M. E., & Augustijns, P. (2009). Supersaturating drug delivery systems: The answer to solubility-limited oral bioavailability? Journal of Pharmaceutical Sciences, 98(8), 2549–2572.
- Amidon, G. L., Lennernäs, H., Shah, V. P., & Crison, J. R. (1995). A theoretical basis for a biopharmaceutic drug classification. Pharmaceutical Research, 12(3), 413–420.
Data obat dan model simulasi bersifat ilustratif untuk pembelajaran, bukan untuk keputusan formulasi atau terapi.